vespa
Entertainment

Sejarah Panjang Vespa di Indonesia

Sulit melacak sejak kapan Vespa masuk ke Indonesia. Ditengarai Vespa sudah masuk sejak sebelum tahun 1960an.

Dibawa oleh para misionaris dari Italia yang membawa misi keagamaan di banyak tempat di Indonesia.

Badannya yang kokoh dengan kemampuan mesin yang besar jadi salah satu pilihan selain tentu saja karena asal para misionaris itu yang dari Italia.

Salah satu momen penting yang tercatat dalam sejarah Vespa di Indonesia adalah ketika pasukan penjaga keamanan Indonesia yang diberi nama Pasukan Garuda III pulang bertugas dari Congo.

Para anggota pasukan itu diberi tanda jasa dari pemerintah dalam bentuk motor Vespa.

Motor Vespa yang diserahkan ke anggota Pasukan Garuda III ini dijuluki Vespa Congo walaupun nama aslinya adalah Vespa 150 GS VS5. Ada dua jenis Vespa yang diserahkan ke prajurit Pasukan Garuda III ini.

Vespa warna hijau dengan kapasitas 150cc untuk perwira, sementara yang berwarna biru dan kuning dengan kapasitas 125cc diserahkan ke prajurit dengan pangkat lebih rendah.

Semua Vespa yang diserahkan ditambahi dengan logo kecil di setang sebelah kiri sesuai nomor registrasi sang prajurit penerima, sementara di Bukti Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) tercantum tulisan: Dari Garuda III.

Inilah untuk pertama kalinya Vespa tercatat masuk ke Indonesia secara besar-besaran. Saya membayangkan kalau saja masih ada yang menyimpan Vespa ini dan merawatnya dengan baik, harganya tentu saja sangat tinggi. Collectible item bok!

Kedatangan Vespa Congo itu kemudian membuat beberapa importir mendatangkan Vespa dengan kondisi jadi (build up) langsung dari Italia.

Salah satunya adalah PT. Gunung Slamet (GS) yang masih berdiri sampai sekarang.

Konon saat itu harga satu unit Vespa hampir sama dengan satu unit rumah sederhana. Masuk akal mengingat semuanya diimpor langsung jadi dari negeri asalnya.

Karena permintaan pasar semakin besar, maka di tahun 1970 didirikanlah perusahaan yang diberi nama PT. DanMotors Vespa Indonesia (DVMI), sebuah perusahaan kerjasama pengusaha Indonesia dan Denmark.

Awalnya DVMI mendatangkan komponen secara semi knocdown atau setengah jadi, namun belakangan DVMI mulai memproduksi sendiri mesin Vespa di bawah lisensi Piaggio.

Tahun 1976, DVMI sudah memproduksi 40.000 unit Vespa yang bukan hanya dijual di pasar lokal tapi juga diimpor sampai ke Thailand.
Lebih Baik Naik Vespa

Dalam dasawarsa tahun 1970an sampai akhir 1980an Vespa bisa dibilang mencapai tingkat popularitas tertingginya.

Di masa itu pula tagline terkenal dari iklan Vespa mulai muncul.

Mungkin kalian pernah mendengar kalimat: Lebih Baik Naik Vespa, sebuah tagline yang jadi sangat legendaris dan lekat dengan motor Vespa hingga sekarang.

Baca Juga : 10 Kesalahan Tulis Kosakata yang Sering Ditemui

Tagline itu diciptakan oleh Nuradi, pria kelahiran Jakarta 10 Mei 1926 yang juga pemilik biro iklan InterVista. Tagline itu begitu populer dan melekat nyaris abadi dengan motor Vespa itu sendiri.

Selama dekade itu pula Vespa sangat mudah ditemukan di jalanan di Indonesia.

Popularitasnya baru menurun ketika mendekati akhir dekade 1980an.

Produksi massal motor 4 tak yang lebih hemat dan harganya lebih terjangkau membuat banyak pengendara motor memilih beralih ke lain hati.

Sebagian besar pilihan itu jatuh ke motor-motor buatan Jepang yang saat itu dikuasai oleh Honda.

Sejak saat itu Vespa tidak lagi jadi pilihan utama pengendara roda dua di Indonesia.

Namun, meski jumlah produksi barunya terus menurun, popularitas Vespa sebagai kendaraan klasik dan legendaris justru meningkat di awal milenium kedua.

Beberapa Vespa tua bahkan dihargai sangat tinggi.

Tahun 2016 kemarin, dalam gelaran pameran motor di Milan, Italia yang diberi nama EICMA (Esposizione Internationale Ciclo e Motociclo), sebuah Vespa 98 keluaran tahun 1946 dihargai 230.000,- Euro. Wakwao! Harga yang fantastis.

About the author

Related Posts