pantjoran tea house
Food

Pantjoran Tea House, Minum Teh Sambil Nostalgia Jakarta Tempo Dulu

Di tengah ramainya kawasan Glodok, terdapat sebuah tempat untuk para pecinta dan penikmat teh, Pantjoran Tea House. Tempat yang baru dibuka pada pertengahan 2016 ini berada tepat di pojokan Glodok. Arsitektur bangunan ini lumayan mencolok di tengah kusamnya bangunan yang ada di kawasan ini. Ternyata, Pantjoran Tea House bukan sekadar tea house.

Bangunan ini merupakan bagian dari proyek Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) dan Jakarta Endowment for Arts and Heritage (Jeforah). Bangunan restoran ini dulunya adalah Apotheek Chung Hwa yang dulunya merupakan landmark daerah pecinan Batavia.

Cerita perjalanan Apotheek Chung Hwa terlalu indah untuk tidak kembali diteruskan. Inilah apotek tertua di Jakarta yang hadir di tahun 1928 dan dikenal pula sebagai ‘pintu gerbang’ kawasan Pecinan berkat lokasi strategisnya.

Ide untuk mengubah apotek menjadi tempat minum teh berasal dari kisah kapiten Gan Djie pada masa pemerintahan Belanda. Sang kapiten merupakan orang yang ditunjuk oleh pemerintah Belanda untuk memimpin kawasan pecinan ini. Selama ia memerintah pada 1663 hingga 1675, Gan dan istrinya sering menyajikan teh bagi orang yang kebetulan melewati kantornya.

Baca Juga : Mengintip Kuda Troya Probolinggo

Setiap hari, Gan menaruh 8 teko teh di depan kantornya. Karena kebiasaan ini, Gan dan tehnya menjadi populer. Tempat tersebut juga pernah menjadi gerbang awal kota Batavia yang dibangun oleh Jan Pieterszoon Coen.

Puluhan tahun tak ditinggali dan terbengkalai, nafas baru menampakkan kembali wajah cantik gedung tua lewat proyek Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) yang bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta.

Setelah dipugar, tempat ini mempunyai interior bernuansa oriental dengan warna dominan cokelat kayu. Nuansa ini terasa pada ukiran pintu, jendela, dan penyekat ruangannya. Untuk membuat tempat ini lebih kontemporer, bohlam dan berbagai lukisan terlihat menghiasi dinding.

Inilah sejarah yang membantu JORTC melanjutkan cerita Apotheek Chung Hwa di Pantjoran Tea House. Di sini, tradisi 8 teko gratis ala Gan Jie berlanjut, dengan teh yang berbeda setiap harinya.

Tak hanya Chinese tea, ada pula sencha dan genmaicha Jepang hingga teh-teh khas Inggris, seperti Earl Grey dan English Breakfast. Yang juga menarik, Fine Flowery, tisane (‘teh’ bunga) premium Jawa Timur dengan rasa manis dan aroma bunga yang samar. Juga dari Indonesia, Orange Pekoe yang dulunya salah satu daun teh utama yang diekspor ke Belanda.

Makanan yang disajikan di Pantjoran Tea House mempunyai akar peranakan. Ada Nasi Goreng khas Pantjoran dengan warna merah, Gurame Asam Manis, dan aneka dimsum. Dari segi makanan, rasa yang ditawarkan oleh Pantjoran Tea House terkesan biasanya saja.

Namun untuk varian teh, meski pun tidak terlalu lengkap, Pantjoran Tea House menyediakan berbagai teh dari daerah Inggris, Tiongkok, Jepang, dan tentunya Indonesia.

About the author

Related Posts