negeri-dongeng
Entertainment

Film Negeri Dongeng, Dari Pendakian Gunung Sampai Ironi Negeri Kaya

Dikerjakan selama tiga tahun, film dokumenter “Negeri Dongeng” hadir menjadi pembeda. Melibatkan tujuh sineas sekaligus pendaki, film “Negeri Dongeng” mengisahkan perjuangan mereka mencapai tujuh puncak gunung di Indonesia.

Film bergenre dokumenter ini mengisahkan petualangan 7 sineas sebagai tokoh utama, yang mendaki 7 puncak gunung tertinggi di Indonesia. Mereka juga membawa 7 kamera.

Negeri Dongeng merupakan sebuah film dokumenter yang bercerita tentang kisah nyata pendakian menggapai tujuh puncak tertinggi Indonesia. Film ini baru saja selesai digarap dan siap untuk tayang di seluruh bioskop Indonesia pada bulan September kemarin.

Beberapa guest ekspeditor yang ikut berperan dalam film ini adalah Nadine Chandrawinata (Cartenz Pyramid Papua), Darius Sinathrya (Gunung Binaiya Ambon), Medina Kamil (Gunung Bukit Raya Kalimantan), Djukardi “Bongkeng” Adriana (Gunung Rinjani Lombok), Alfira “Abex” Naftaly (Gunung Latimojong Sulawesi) dan Matthew Tandioputra (Gunung Semeru Jawa Timur).

Film dokumenter Negeri Dongeng tak melulu tentang pendakian dan puncak gunung. Lebih dari itu, film ini akan mengajakmu melihat kehidupan manusia di kaki gunung, menyentuh tujuh puncak tertinggi Indonesia, belajar ilmu pendakian, melihat dan merasakan alam Indonesia dengan segala problematikanya.

Baca Juga : Fakta The Sacred Riana, Orang Indonesia yang Bikin Juri Asia’s Got Talent Ngeri

Film itu juga bercerita tentang Indonesia, yang tak mampu membeli kekayaan alam sendiri sampai rekaman-rekaman kerusakan alam yang terjadi.

”Kita tidak mampu membeli kekayaan kita sendiri,”  kutipan dalam film itu saat mengunjungi kaki Gunung Kerinci.

Mengapa begitu? Satu fakta, produksi teh Indonesia, pasar nasional hanya membeli kualitas kelas III, dan kelas I-II untuk ekspor. Ia kontras dengan kesejahteraan bagi petani yang sangat rendah. Serupa dengan petani kentang di kaki Gunung Semeru, harga beli sangat timpang dengan harga jual.

Potret perjalanan Aksa 7 ini menampilkan kenyataan masyarakat sekitar hutan dengan kehidupan jauh dari sebuah kata sejahtera. Dalam film itu terlihat, masyarakat di sekitar hutan Gunung Bukit Raya, Kalimantan, mulai berpindah dari petani ke menambang emas.

Kerusakan alam dengan penebangan pohon ditampilkan dalam film, tergantikan penambang rakyat. Alasannya, mereka mengetahui ada kekayaan alam yang lebih menjanjikan meski merusak.

Pemerintah pun belum bisa memberikan solusi agar masyarakat meninggalkan pekerjaan sebagai tambang emas dan tetap punya mata pencarian mencukupi.

About the author

Related Posts