Entertainment

LGBT, Bawaan Gen atau Pilihan Hidup?

Fenomena mengenai kelompok lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) akhir-akhir ini kembali merebak setalah Dewan Perwakilan Rakyat mendukung prilaku menyimpang ini. Semua berdasar pada asumsi bahwa LGBT itu bawaan genetik. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah prilaku LGBT, bawaan penyakit atau pilihan hidup ?

Pada 1999, Prof. George Rice dari Universitas Western Ontario, Kanada, memperdalam riset Hamer dengan memeriksa 52 pasang kakak beradik (yang salahsatunya homoseksual) untuk melihat keberadaan penanda gen gay di daerah kromosom tertentu.

Hasilnya menunjukkan, kakak beradik itu memperlihatkan kesamaan penanda di gen Xq28. Dari kakak-beradik yang sama-sama memiliki gen Xq28 tersebut nyatanya hanya salahsatu saja yang menyimpang menjadi homoseksual.

Baca Juga : Surabaya Tuan Rumah Japan Week 2018

Menariknya lagi, sepasang anak kembar identik lebih cenderung untuk menjadi penyuka sesama jenis dibandingkan pada kembar fraternal (Langstrom dkk, 2008) inilah yang menjadi alasan mungkin saja gen gay benar adanya.

Tapi bagaimana bisa? Karena pada kenyataanya, orang dengan orientasi homoseksual tidak mungkin memiliki keturunan langsung dengan pasangan sesama jenisnya. Hal ini terjawab oleh penelitian yang dilakukan oleh Boclandt dkk pada tahun 2006. Penelitian itu menyatakan bahwa garis turunan dari ibu yang membuat gen gay bertahan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa, setiap orang mungkin saja memiliki Gen Gay, namun tidak berarti dia harus menjadi gay, karena Gen tersebut sama sekali tidak mempengaruhi penyimpangan apapun. dengan kata lain, teori Gen Gay tersebut sebenarnya telah runtuh.

Penyimpangan tersebut terjadi akibat cara pandang, pilihan hidup, dan terutama pengaruh lingkungan. Inilah yang disebut runtuhnya teori “Gen Gay”.

About the author

Related Posts