tiang listrik
Entertainment

Kisah Tragis Tiang Listrik Permata Hijau

Isu apa yang viral pagi ini? Yup, pasti semuanya setuju, tiang listrik. Cuma bisa senyum-senyum sendiri saat membuka FB pagi ini, wall penuh dengan ungkapan-ungkapan lucu terkait tiang listrik yang ditrabrak oleh ‘si papah’.

Inilah media sosial. Bekerja lebih cepat dari media mana pun. Pihak penyusun skenario belum selesai membuat naskah, ranah media sosial sudah memprediksi berbagai kemungkinan ending skenario yang sedang disusun. Mulai dari amnesia hingga berobat ke luar negeri. Betul-betul pasukan cerdas.

Tanpa mengurangi sedikitpun rasa prihatin dan simpati pada Setnov , sepertinya lebih asyek membahas nasib si tiang. Sebab terlalu banyak media yang membahas dari sisi Setnov . Tapi tiang listrik yang jadi ‘korban’ jarang diulas.

Sang Penyangga kabel ini menjadi trending hanya karena banyak warganet yang menjadikannya bagian dari lelucon kecelakaan di Permata Hijau. Ada banyak unggahan lelucon terkait tiang listrik dan kecelakaan Setnov . “Yang nabrak Setnov, yang dilarikan ke UGD tiang listrik,” begitu salah satu lelucon yang ramai tersebar di media sosial.

Mungkin saat membaca tulisan ini Anda pun akan berpikir, “Setnov yang nabrak, yang diberitakan justru si tiang. ” Semua pandangan itu terpulang pada kepala Anda sendiri. Namun satu hal yang pasti, tiang listrik memang menjadi sebuah alat yang paling sering kita jumpai tapi jarang kita sadari. Bahkan pengendara banyak yang menabraknya hingga benjol dan masuk UGD.

Baca Juga : Belajar Sederhana dari Orang Super Kaya di Dunia

Berangkat dari kejadian “papa” semalam, kita jadi diingatkan kembali tentang peran penting tiang listrik. Jelas, keberadaannya bukan untuk ditabrak. Tiang Utilitas sangat vital bagi kehidupan karena menopang aliran kabel utilitas yang digunakan baik untuk listrik, telpon, maupun internet.

Hingga kini, di Indonesia terdapat puluhan juta tiang utilitas yang umumnya bermaterikan besi, beton sebagai penopang. Setiap tiang utilitas, rata-rata menopang kabel beraliran antara 6 KV, 12 KV 20 KV dan 24 KV. Ukuran tinggi tiang  secara umum 12 meter yang mana dua meternya dikubur di dalam tanah. Dengan diameter rata-rata 20 sampai 30 sentimeter, maka siapapun yang nekad menabraknya maka kepalanya bisa benjol sebesar bakpao.

Namun ternyata kerugian materi dari kerusakan tiang utilitas tak seberapa. Sebab harga satu tiang standar hanya mencapai kisaran ratusan ribu. Sedangkan harga maksimalnya mencapai Rp 2 juta. Bila dibandingkan dengan nilai kerugian dalam kasus E-KTP sebesar Rp 2,3 triliun, maka si tiang hanya satu per sejuta-nya.

Tiang listrik memang juga membuat lingkungan semerawut. Tapi kisahnya di negeri ini malah pada posisi protagonis, seperti di Permata Hijau.

Penegasan status protagonis tiang listrik Permata Hijau disematkan mayoritas warganet. Salah satunya bahkan menyebut, “Semoga kejadian ini tidak menyebabkan tiang listrik lainnya trauma untuk berdiri di pinggir jalan. Percayalah, kalian kuat, kalian terbuat dari baja, kalian tangguh.”

About the author

Related Posts