morandi
Entertainment

Kisah Morandi, Pria yang Tinggal Selama 28 Tahun di Pulau Tak Berpenghuni

Jika sebagian besar dari kita memilih untuk tinggal di tengah kehidupan modernitas, lain halnya dengan pilihan hidup seorang pria bernama Mauro Morandi, yang memilih tinggal seorang diri di sebuah pulau tidak berpenghuni bernanama Budelli, selama 28 tahun.

Mulanya pria yang sudah berumur 70 tahun tersebut, melakukan pelayaan dengan kapalnya di tahun 1989, kemudian karena terhempas ombak, ia dan kapalnya pun terbawa hingga ke pantai Pulau Budelli. Lalu karena jatuh cinta dengan keindahan alamnya, ia pun akhirnya memutuskan untuk menetap di pulau tersebut sejak saat itu.

Namun, meski dirinya tinggal sendiri di pulau Budelli, Morandi mengaku tetap bisa memiliki segudang aktivitas, seperti misalnya membuat hal-hal kreatif, membaca, bermeditasi, atau sekedar mengamati bagaimana perubahan pulau dari waktu ke waktu sambil berjalan di sepanjang pantai Budelli yang berbatu.

Tak hanya itu, ia pun memanfaatkan waktu luangnya sehari-hari untuk mengumpulkan plastik-plastik yang terseret hingga ke pantai, agar pantai Budelli tetap terjaga keindahannya.

(Baca juga: Mursala, Pulau Eksotis yang Dijadikan Lokasi Syuting Film Hollywood)

Pulau Budelli sendiri, memang dianggap sebagai pulau yang paling indah dari tujuh pulau lainnya yang berada di Taman Nasional Kepulauan Maddalena. Karena, pantai di Pulau Budelli memiliki hamparan pasir berwarna merah muda, sehingga dinamakan Spagia Rosa.

“Saya ada di ‘penjara’. Tapi ini adalah penjara yang saya pilih untuk diri saya sendiri. Saya juga tidak akan pernah pergi. Saya berharap bisa mati di sini, dikremasi, dan abu saya ditebarkan,” ujar Morandi mantap, seperti dilansir dari Nationalgeographic.

Ia percaya bahwa ini adalah cara Tuhan agar dirinya dipertemukan kembali dengan bumi. Ia juga yakin, bahwa dengan tetap menjaga keindangan pulau tersebut, maka pulau Budelli bisa terlindung dari eksploitasi. Hal inilah yang kemudian membuat Morandi sering memberikan penjelasan bagaimana pentingnya melindungi ekosistem.

“Saya bukan ahli botani atau ahli biologi, saya hanya mencoba membuat orang mengerti mengapa tanaman diperlukan dalam kehidupan ini.” terangnya.

Untung saja yang ia lakukan mendapat dukungan dari sebuah perusahaan internet yang membuat koneksi wi-fi di Budelli. Sehingga, ia pun dapat memberikan gambaran bagaimana hubungan manusia dan alam lewat media sosial, agar orang-orang dapat termotivasi untuk merawat planet ini.

Namun sayang, pada tahun 2016 pantai tersebut akhirnya ditutup untuk melindungi ekosistemnya, sehingga hanya daerah-daerah tertentu yang tetap dapat diakses oleh pengunjung.

(Baca juga: Ini Dia 4 Alasan Utama Untuk Menikah di Pulau Bali)

Kejadian ini pun berdampak pada Morandi yang sudah tinggal disana selama bertahun-tahun. Bahkan, pemerintah juga menentang hak Morandi untuk tinggal di pulau tersebut. Sehingga untuk membantu Morandi, sebuah petisi pun lalu dibuat untuk memprotes penggusurannya.

Tak disangka, petisi tersebut berhasil mengumpulkan lebih dari 18.000 tanda tangan yang meminta penundaan pengusiran Morandi tanpa batas waktu.

Morandi pun lalu memberikan pesannya pada dunia, “cinta adalah konsekuensi absolut dari keindahan dan sebaliknya. Ketika Anda mencintai seseorang dengan mendalam, Anda melihatnya sebagai sosok yang cantik, tapi bukan karena kecantikan fisik tetapi karena Anda berempati kepadanya, Anda menjadi bagiannya, dan dia menjadi bagian Anda. Hal itu berlaku juga dengan alam,” ujarnya.

About the author

Related Posts