Food

Kisah Bondan Winarno, Dari Wartawan Investigasi sampai Jargon ‘Maknyus’

Bondan Haryo Winarno, wartawan senior sekaligus pakar kuliner Indonesia, meninggal Rabu (29/11) pagi. Bondan meninggal di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Slipi, Jakarta Barat.

Kabar meninggalnya Bondan dibenarkan Primus Doromilu, Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan.

Bondan merupakan mantan Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan sejak 2001 hingga 2003. Sebelum menjadi pemred, Bondan malang melintang di dunia jurnalistik. Ia dikenal publik setelah menjadi host untuk acara Wisata Kuliner yang ditayangkan TransTV.

Di dunia jurnalistik, Bondan dikenal sebagai seorang wartawan investigasi yang membongkar Kasus Bre-X tentang emas di Pulau Kalimantan Pada 1997.

Bondan membongkar kebohongan publik terkait kandungan emas di Busang, Kalimantan Timur yang sempat membuat saham Bre X, perusahaan tambang Kanada meroket.

Ketika konspirasi terkuak dan geolog Busang De Guzman bunuh diri, Bondan melakukan investigasi yang salah satu temuannya menguatkan indikasi bukan De Guzman yang bunuh diri. Kematian pura-pura pria asal Filipina ini menghapus mata rantai kebohongan ihwal tingginya kandungan emas di Busang.

“Kemarahan saya, bangsa Indonesia dipermalukan, tapi kok gak merasa malu. Lalu, ratusan ribu guru di Kanada yang dana pensiunnya hilang karena dipakai membeli saham Bre X,” papar Bondan, sebagaimana diungkapkan dalam video dokumenter ‘Jurnalisme Investigasi’ karya Watchdoc.

Baca Juga : Dilarang Keras Panaskan 5 Makanan Ini

Namun, kisah Bondan menjadi berbeda, lantaran saat investigasi skandal emas Busang, dia tak lagi menjadi wartawan. Investigasi itu dibukukannya, dengan judul ‘Sebongkah emas di Kaki Pelangi’.

Setelah memutuskan untuk pensiun dari pekerjaannya, Bondan mulai masuk dalam dunia kuliner pada tahun 2000. Ia mempelopori dan menjadi ketua Jalansutra sebuah komunitas wisata boga dengan anggotanya mencapai 8.000 orang.

Pada tahun 2005 ia digaet oleh PT Unilever untuk melahirkan program Bango Cita Rasa Nusantara. Setelah 15 bulan menjadi presenter Bango Cita Rata Nusantara, pria yang juga gemar memasak di rumah tersebut memutuskan untuk mundur.

Pria kelahiran Surabaya itu memulai kembali kariernya dengan membawakan program kuliner yang terkenal dengan jargon ‘pokoe maknyus.’ Ungkapan tersebut ‘dipinjamnya’ dari Umar Kayam, yang sering melontarkan ungkapan yang sama tiap kali menyantap hidangan lezat.

Saat berada di puncak popularitas, pria dengan enam orang cucuk tersebut memutuskan untuk berhenti dan menikmati masa tua bersama keluarganya.

Namun, Bondan tidak lepas begitu saja, ia masih aktif dalam beberapa kegiatan kuliner untuk mendukung popularitas kuliner Nusantara yang dirasanya memiliki potensi luas untuk dikembangkan.

About the author

Related Posts