Health

Ketika Fan “Gelap Mata” Kepada Idola

Kecintaan fan akan idolanya ternyata seringkali tak cuma sebatas rasa kagum biasa. Fan remaja seringkali tak hanya sekadar mengidolakan karena si tokoh idola punya prestasi yang bagus, suara yang indah, dan perilaku yang baik.

Semua alasan tersebut tentunya baik jika dijadikan contoh bagi remaja. Hanya saja, saking sukanya pada idola, seringkali fan kerap gelap mata dan tak peduli jika sang idola bertindak salah.

Jika sudah begini, remaja kerap terjebak dalam situasi fanatisme yang berlebihan pada seorang idola.

“Sebenarnya wajar saja remaja itu punya idola. Enggak mudah lho jadi remaja karena mereka masih harus mencari jati diri,” kata psikolog Roslina Verauli.
“Remaja bisa mengidolakan siapa pun. Termasuk yang tren saat itu, tapi ada juga yang musiman.”

Memiliki idola, kata Vera, adalah bagian dari proses remaja mencari jati diri.

“Memiliki idola adalah bagian remaja untuk menjadi bagian dari masyarakat dan budaya. Remaja pasti punya idola yang populer dan ingin menjadi bagian dari sub kultur tren. Mereka juga butuh untuk jadi bagian dalam tren tersebut dan ujung-ujungnya juga untuk eksistensi.”

“Namun yang jadi masalah, seringkali remaja memilih idola yang terlalu jauh dari dirinya. Akibatnya mereka bisa menciptakan dirinya yang lain dalam versi berbeda.”

Psikolog yang disapa Vera ini juga mengungkapkan bahwa pembentukan alter ego atau versi berbeda dari dirinya sendiri dan menganggap bahwa dia adalah bagian dari idolanya.

Baca Juga : Ini Resep Minuman Mangga Yang Sedang Hits

Tak cuma itu, dia juga mencoba untuk meniru kehidupan idolanya bahkan sampai stalking kehidupan pribadi sang idola.

Hal ini bisa jadi menjurus ke fanatisme berlebihan. Vera juga mengungkapkan bahwa ada beberapa tahapan menjurus ke fanatisme. Namun tak semua hal bisa dikaitkan dengan fanatisme.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ardiani Wijayanti dari Universitas Negeri Yogyakarta, Hallyu: Youngstres Fanaticism of Korean Pop Culture dalam Journal of Sociology mengungkapkan bahwa fanatisme terbentuk karena dua hal yaitu menjadi penggemar untuk sesuatu hal berupa objek barang atau manusia, dan berperilaku fanatisme karena keinginan diri sendiri yang terlihat dari berubahnya perilaku untuk meniru hal yang baru.

“Kalau masih hanya sering datang ke konser, nonton drama, itu masih wajar. ”

Salah satu hal yang menggambarkan fanatisme berlebihan adalah copycat suicide. “Ini adalah hal yang berbahaya. Walaupun sebenarnya belum tentu copycat suicide ini disebabkan oleh kematian si idolanya.”

“Semuanya tergantung pada penghayatan individu terhadap idolanya. Sosok yang dia mau dan inginkan untuk dirinya jadi seperti apa.” (CNNIndonesia)

About the author

Related Posts