Food

Keong Sawah, Hama Padi yang Jadi Menu Restoran Eropa

Beberapa hari lalu jagat sosial dihebohkan dengan statement dari Menteri Pertanian RI, Andi Amran yang mengajak masyarakat untuk mengkomsunsi keong sawah saat harga daging melambung tinggi.

Lantas apakah bisa keong sawah dijadikan bahan makanan pengganti daging? Tak dimungkiri, hal inilah yang membuat masakan Perancis dan Eropa menjadi lezat.

Di Paris, ada satu restoran yang sangat terkenal dengan menu keong sawah atau bekicot, yakni L’Escargot Montorgueil. Ia sebuah restoran terletak di jantung Kota Paris. Berdiri sejak 1832. Pertama kali berdiri, restoran yang terletak di Jalan Montorgueil nomor 38 itu dinamai L’Escargot D’or alias bekicot emas.

Ketika itu, restoran ini selalu dipakai anggota parlemen Republik Ketiga melakukan pertemuan-pertemuan penting. Restoran ini pun mencatat sejumlah pesohor dunia yang mencicipi menu bekicot antara lain Charlie Chaplin, Marcel Proust, Jackie Kennedy dan sederet nama lain. Hingga kini, restoran ini pun masih sering dikunjungi pesohor dunia dan politikus Prancis.

Sementara di Indonesia, sebagian orang mungkin merasa jijik untuk menyantap daging keong sawah yang terlihat berlendir. Selain itu, bentuknya yang ‘kurang menyakinkan’ untuk disantap juga membuat beberapa orang enggan menyantapnya.

Padahal sebenarnya, daging keong sawah atau tutut memiliki protein yang tinggi. Selain itu, dagingnya memiliki rasa manis seperti kerang. Sedangkan teksturnya yang kenyal dan berserat seperti jamur.

Baca Juga : 10 Kuliner Kaki Lima Legendaris di Bogor

Mengutip The Hindu, sebelum disantap, keong sawah harus diolah dengan baik agar rasanya maksimal.

Anda hanya harus mencuci siput dengan air dingin beberapa kali untuk menghilangkan bau lumpurnya . Setelahnya, rendam dalam air selama lima menit.

Usai dicuci bersih, keong sawah bisa direbus selama 5-7 menit dan siap disajikan. Jika tak ingin direbus, Anda juga bisa menggorengnya atau bahkan menumisnya dengan tambahan sayuran, karbohidrat (seperti pasta) atau jenis daging lainnya.

Daging keong sawah tumis pedas pun terasa nikmat dengan sensasi rasa pedas dan gurih kenyal.

Bahkan di daerah Banyumas, Jawa Tengah saat moment bulan puasa masyarakat nya mengenal menu Kraca yang selalu laris saat berbuka.

Masakan kraca dari keong sawah ini biasa diolah dengan rempah-rempah sehingga mengundang selera.

Untuk membuat masakan keong sawah, keong mentah harus dicuci hingga bersih kemudian dilubangi pada bagian belakangnya. Tujuannya untuk menghilangkan kotoran dan agar bumbu meresap ke dalam.

Setelah itu keong direndam semalam, pagi harinya keong kembali dicuci berkali- kali hingga bersih dan baru dimasak.

Untuk memasaknya, tumis bumbu-bumbu yang sudah dihaluskan kemudian masukkan keong yang sudah dicuci bersih. Setelah bumbu meresap kemudian diberi air dan direbus hingga kurang lebih 4 sampai 5 jam. Setelah itu kraca khas Banyumas dengan citarasa yang lezat, pedas dan segar dengan tekstur lunak siap untuk dihidangkan.

Namun tak semua keong sawah bisa disantap.

Keong sawah sendiri secara umum dibagi menjadi keong yang beracun dan tak beracun. Keong sawah beracun adalah keong mas. Seperti namanya, keong ini memiliki cangkang atau rumah keong yang berwarna keemasan.

Sedangkan keong sawah yang tak beracun adalah keong dengan warna cangkang yang sedikit hijau sampai kehitaman. Keong sawah jenis inilah yang kerap disebut sebagai tutut.

Hewan yang masuk dalam kelompok molusca atau bertubuh lunak ini juga punya nama lain seperti keong godang, siput sawah, siput air, kraca, dan lainnya.

About the author

Related Posts