dulmuluk
Tourism

Hikayat Dulmuluk Wisata Budaya di Tanah Wong Kito

Sebelum kamu berniat mengunjungi Palembang saat Asian Games 2018 nanti, ada baiknya kamu harus ketahui wisata apa saja yang bisa kamu lihat sekaligus di sana. Banyak lho wisata budaya menarik dan asli Palembang yang bisa jadi hiburan kamu di kala berjalan-jalan di kota tersebut.

Selain kekayaan kuliner, Palembang juga diwarisi oleh banyak kebudayaan yang unik. Salah satunya adalah kesenian tradisional dulmuluk. Meski saat ini, kesenian rakyat tersebut sudah tak lagi populer, namun tak sedikitpun melunturkan semangat para seniman tradisional dulmuluk Palembang. Lebih lagi, masih ada para generasi muda Palembang yang terpanggil untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian yang amat berharga ini.

Dulmuluk adalah teater tradisional yang berkembang di Sumatera Selatan. Kata dulmuluk sendiri berasal dari nama tokoh utamanya yang bernama Raja Abdulmuluk Jauhari. Kesenian ini dibawa oleh seorang pedagang keliling yang masih mempunyai darah keturunan Arab yang bernama Wan Bakar ke kota Palembang dengan sistem perdagangan. Dulunya pada 1954 Wan Bakar bertempat tinggal di Kampung Tangga Takat (16 Ulu) Palembang. Selain membawa barang dagangan, dia juga membawa kitab–kitab bacaan yang berisikan hikayat baik dalam bentuk syair maupun cerita biasa untuk keperluan sendiri, dan di antara kitab yang ia bawa terdapat kitab syair Abdulmuluk yang dibawa dari Singapura bertuliskan huruf Melayu.

Baca Juga : Pocari Sweat dan Soyjoy Dukungg Asian Games 2018

Sedangkan syair Abdulmuluk ini sendiri dikarang oleh seorang wanita yang bernama Saleha yaitu adik perempuan dari Raja Ali Haji Ibn Raja Achmad Ibn yang dipertuanmuda Raja Haji Fi Sabilillah yang bertahta di Negri Riau pulau Penyengat Indra Sakti pada abad ke-19.

Ternyata kisah Raja Abdulmuluk ini berangsur-angsur tersebar ke seluruh penjuru kota palembang dan sangat digemari oleh masyarakat pada eranya. Karena ketertarikan tersebut maka akhirnya seluruh masyarakat yang mengemari dulmuluk berkumpul dan karya ini menyebar hingga ke seluruh Palembang.

Terbentuknya teater ini melalui tahapan yang panjang yang dimulai dari proses yang paling awal sejak pembacaan syair atau tutur, hingga menjadi teater utuh seperti sekarang ini. Dalam dulmuluk terdapat lakon, syair, lagu-lagu Melayu, dan lawakan. Adapun bentuk pementasan dulmuluk serupa dengan lenong dari masyarakat Betawi di Jakarta. Akting di panggung dibawakan secara spontan dan menghibur. Di teater ini penonton pun bisa membalas percakapan di atas panggung. Bedanya sudah pasti di bahasa yang digunakan. Kalau lenong menggunakan bahasa Betawi, dulmuluk menggunakan bahasa Melayu Palembang. Dulmuluk biasanya dipentaskan setiap ada pesta pernikahan. Kadang kala dulmuluk bisa diadakan semalam suntuk. Meski sempat kehilangan pamor, dulmuluk kini kembali dilestarikan oleh generasi muda melalui pementasan di sekolah-sekolah.

Dulmuluk dahulu juga sempat mendapat perhatian luas saat muncul di layar kaca televisi TVRI Sumsel ataupun TV swasta lokal Palembang. Penasaran kan serunya teater asli Palembang ini?

About the author

Related Posts