Tourism

Desa Wisata Edelweis, Pesona Baru TN Bromo Tengger Semeru

TN Bromo Tengger Semeru tidak melulu tentang keindahan sunrise dan eksotisme pendakian Semeru, tetapu juga tentang Desa Wisata Edelweis

Bunga edelweis (Anaphalis javanica) hingga saat ini masih sulit dilepaskan sebagai simbol yang prestisius bagi para pendaki gunung dan pegiat alam bebas. Bunga edelweiss dikenal sebagai cinderamata sepulang naik gunung. Karena dulu memang banyak warga lokal yang memperjualbelikannya.

Namun saat ini beda cerita, karena bunga edelweiss sudah masuk ke dalam kelompok flora yang dilindungi undang-undang. Selain karena langka, bunga edelweiss dilestarikan karena punya banyak manfaat.

Untuk menyikapi populasi bunga yang semakin langka ini, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menyiapkan desa wisata sekaligus budidaya bunga edelweiss. Tempat tersebut berada di kawasan Desa Ngadisari, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Desa Ngadisari adalah lokasi uji coba pengembangan Desa Wisata Edelweiss berbasis masyarakat.

Pengembangan Desa Edelweiss ini sendiri bertujuan untuk melestarikan populasi bunga edelweiss yang semakin menipis. Kesadaran masyarakat sekitar yang masih memperjualbelikan juga akan dibina melalui program ini. Sekitar 6.000 bibit telah dipersiapkan untuk pengembangan destinasi wisata ini.

Baca Juga : 10 Tempat Kemping Terbaik Buat Keluarga di Indonesia

Dari 6.000 bibit, sebanyak 150 bibit bunga edelweiss telah ditanam. Rencananya terdapat beberapa desa yang juga akan turut dikembangkan menjadi desa edelweiss. Di antaranya adalah Desa Wonokitri Kabupaten Pasuruan, Desa Ngadas Kabupaten Malang, dan Desa Ranupani Kabupaten Lumajang.

Rencananya, Desa Wisata Edelweis akan dikelola secara swadaya oleh masyarakat Suku Tengger yang tinggal di kawasan penyanggah Gunung Bromo. Hingga saat ini, sudah ada empat desa yang diproyeksi menjadi desa wisata bunga abadi itu.

Selain bertujuan untuk meningkatkan destinasi wisata, Desa Wisata Edelweis juga sebagai wahana edukasi warga Suku Tengger dalam memberdayakan tanaman edelweis. Sifatnya yang tidak pernah layu membuat banyak wisatawan tertarik dengan bunga yang dianggap sebagai lambang cinta abadi itu.

Tidak hanya itu, edelweis juga dijadikan salah satu bunga yang wajib ada dalam setiap sesaji yang dipersembahkan oleh warga Suku Tengger dalam adat keagamaan. Biasanya, warga Suku Tengger menyebut edelweis dengan Tana Layu.

Baca Juga : Mulai Agustus, Mendaki Gunung Slamet Harus Dibekali dengan Surat Dokter

Berasal dari bahasa sansekerta yang artinya tidak layu. Padahal, edelweis merupakan tumbuhan dilindungi yang hanya bisa hidup di kawasan setinggi di atas 2.000 mdpl. Dengan adanya desa wisata itu, warga bisa memberdayakan sendiri tumbuhan edelweis sehingga tidak lagi memetik edelweis yang tumbuh di alam liar.

About the author

Related Posts