Sports

Fakta Unik Persija Jakarta

Perjalanan panjang klub kebanggaan Jakarta mengalami pasang surut di setiap era hingga mengalami krisis finansial selama beberapa musim terakhir. Deretan fakta unik Persija Jakarta menghias perjalanan panjang klub tersebut

Sejarah memang telah dilewati. Tetapi, marilah mengenang masa perjuangan kala masih bernama VIJ (Voetbalbond Indonesische Jacatra) dengan empat gelar yaitu pada tahun 1931, 1933, 1934, dan 1938. Begitu pula ketika lima mahkota juara Perserikatan setelah bernama Persija, yaitu pada tahun 1954, 1964, 1971/73, 1973/75 (juara bersama PSMS Medan), dan 1978/79, hingga mahkota terakhir saat kompetisi telah berubah menjuara Liga Indonesia pada 2001, hingga mahkota terakhir saat Persija keluar sebagai kampiun Piala Presiden 2018

Lantas seperti apakah jati diri Persija sebenarnya? Nah, coba sima 17 fakta Persija ini agar tahu siapa Persija.

Pada zaman Hindia Belanda nama awal Persija Jakarta adalah VIJ (Voetbalbond Indonesische Jacatra)

– VIJ/Persija merupakan salah satu klub yang ikut mendirikan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada 19 April 1930.

– Lahirnya Sumpah Pemuda hanya beda 1 bulan dengan VIJ/Persija (28 Oktober 1928-28 November 1928)

– (Voetballbond Indonesische Jacatra) VIJ/Persija, Pemakaian nama Jacatra menjadi pergerakan orang pribumi yang membenci Belanda.

– Pertandingan dengan penonton tertinggi di putaran I, Persija vs Arema (39,880) dan Rating TV tertinggi Persib vs Persija (23,8)

– Pada putaran pertama Persija menduduki posisi pertama dengan jumlah penonton terbanyak yaitu 114,131 orang selama 5x home.

Baca Juga : Kisah Menarik Julukan Klub Sepakbola Indonesia

– Persija vs Ajax Amsterdam 1975. Risdianto sukses membawa Persija Jakarta unggul pada menit 21. Namun, tiga menit kemudian, Ajax Amsterdam mampu membalas melalui aksi Johnny Rep. Skor 1-1 menjadi hasil akhir pertandingan persahabatan itu.

– Julukan Macan Kemayoran diambil dari nama pahlawan asal Jakarta Pusat Murtado. Masyarakat memberi julukan Macan Kemayoran alasannya supaya Persija bersifat seperti Murtado pemberani dan pantang menyerah di lapangan hijau.

– Pemain legendaris Persija: Tan Liong Houw. Tan Liong Houw yang berdarah Tionghoa dengan nama pribumi, Latief Harris Tanoto, merupakan pemain spesial dalam perjalanan panjang Persija. Tan Liong Houw yang besar di Jakarta merupakan salah satu legenda klub yang dicintai pendukung Tim Macan Kemayoran pada masanya.

– Pemain legendaris Persija: Sinyo Aliandoe. Nama Sinyo Aliandoe lebih dikenal publik sepak bola nasional sebagai pelatih sukses yang hampir meloloskan Timnas Indonesia ke Piala Dunia Meksiko 1986. Saat masih jadi pemain, pria kelahiran Larantuka, Flores Timur, 1 Juli 1940 tersebut amat mahsyur di Persija Jakarta.

Baca Juga : Ini Sosok Atlet yang Mempengaruhi Dunia

– Pemain legendaris Persija: Soetjipto Soentoro. Nama Soetjipto Soentoro selalu dikenang di dunia sepak bola Indonesia. Ia salah satu striker top pada masanya. Pria yang lahir di Bandung, Jawa Barat, 16 Juni 1941 ini besar di daerah Gandaria, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

– Pemain legendaris Persija: Iswadi Idris. Bakat sepak bola anak-anak Jakarta di era 1960 hingga 1970-an berlimpah ruah. Persija Jakarta tidak pernah kekurangan stok pemain berkualitas hasil cetakan klub-klub internalnya.

– Pemain legendaris Persija: Bambang Pamungkas. Bambang Pamungkas adalah legenda Persija di masa modern. Penyerang kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 10 Juni 1980 ini pernah mengantarkan Macan Kemayoran menjadi juara Liga Indonesia edisi 2001.

– The Jakmania adalah kelompok pendukung / supporter kesebelasan sepak bola Persija Jakarta yang berdiri sejak Ligina IV, tepatnya 19 Desember 1997. Markas dan sekretariat The Jakmania berada di Stadion Lebak Bulus.

About the author

Related Posts