5-kontroversi-asian-games
News

5 Kontroversi Asian Games

Kemeriahan dan sambutan positif dari negara tuan rumah (penyelenggara) Asian Games, sudah tentu menjadi bahan pemberitaan yang menarik bagi media.

Meskipun event empat tahunan ini selalu melahirkan kejutan dari para atlet, namun masih ada sekelumit cerita yang menyimpan segudang kontroversi.

Ada lima kontroversi yang terjadi selama 63 tahun Asian Games berlangsung. Berikut catatan yang dibuat Toptier.id. terkait kisah-kisah kontroversial di ajang multicabang bangsa-bangsa se-Asia itu.

1. Tragedi di Pacuan Kuda, Asian Games 2006

Atlet Korea Selatan Kim Hyung Chil tewas saat menjalani perlombaan di Asian Games XIV/2006 di Doha, Qatar. Atlet 47 tahun itu terjatuh saat menjalani lompatan kedelapan di nomor cross country.

Kala itu, Hyung Chil dan kudanya, Bundaberg Balck, tampil dalam cuaca hujan lebat. Awalnya penampilan mulus tapi saat menjalani lintasan ke delapan, Black gagal melewati palang setinggi 1,08 meter. Hyung Chil pun terlempar kemudian tertimpa kuda tunggangannya.

Sejatinya, ajang itu menjadi salah satu target Hyung Chil untuk meraih medali emas pertamanya di Asian Games. Dalam dua keikutsertaan, Hyung Chil hanya meraup satu perunggu pada 1986 pada nomor tim dan perorangan di tahun 2002.

2. Kasus Doping Binaraga, Asian Games 2006

Binaraga bukan olahraga yang kerap dilombakan dalam Asian Games. Sepanjang sejarah pelaksanaan Asian Games, perebutan medali binaraga baru bergulir dua kali, pada 2002 dan 2006.

Nah, pada pelaksanaan Asian Games 2006 itu binaragawan dari Irak tertangkap basah membawa 134 ampul nandrolone, yang masuk kategori anabolic steroid, saat tiba di bandara Doha. Yang menggelikan, dia tetap diijinkan untuk tampil dalam perlombaan di kelas 75 kilogram dan menyelesaikan di urutan ketujuh. Tapi pada akhirnya dia didiskualifikasi tanpa harus menjalani serangkaian tes doping. Itu menjadi satu-satunya atlet yang didiskualifikasi tanpa tes.

Kasus doping lainnya juga muncul di cabang olahraga tinju. Peraih emas kelas bantam Sazali Samad dihukum hanya dapat perak karena terbukti mengonsumsi doping.

3. Kasus Transgender, Asian Games 2006

Medali perak yang didapatkan pelari India, Santhi Soundarajan, dari nomor 800 meter pada Asian Games 2006 di Doha dicabut. Dia terbukti tidak memiliki karakteristik seksual perempuan setelah melewati sex test usai perlombaan di nomor tersebut.

Soundarajan meraih perak di nomor 800 meter itu dengan catatan waktu 2 menit dan 2,16 detik. Setelah mencapai garis finis dia ditunjuk untuk menjalani sex test. Hasil tes itu menunjukkan dia tidak memiliki karakteristik seksual perempuan. Medali perak Soundarajan pun dicabut.

Kasus itu tak berhenti di sana. Sehari setelah perlombaan, tim dokter Federasi Atletik India, Kumar Mendiratta, meminta Soundarajan untuk menjalani tes darah. Kemudian Panel dokter yang terdiri dari empat dokter ahli mengujinya.

Baca Juga : Begini Tranformasi Wajah GBK Jelang Asian Games

Setelah medali di nomor 800 meter ditarik, Soundarajan juga dilarang turun di nomor 1.500 meter. Setelah itu, dia diminta meninggalkan Asan Games. Dikabarkan dia pulang ke kampung halaman dalam kondisi depresi berat.

Beberapa hari kemudian dari media disebutkan bisa jadi Soundarajan lahir dengan kondisi interseks yang dikenal dengan sindrom insensitivitas androgen. Efeknya, si pengidap memiliki kromosom Y dan secara genital adalah pria tapi memiliki penampilan luar sebagai perempuan.

Tapi, pemerintah daerah Tamil Nadu, asal si atlet, tak mengindahkan kontroversi tersebut. Mereka tetap mengganjar bonus senilai 1,5 juta rupee kepada Soundarajan atas medali yang diraih.

Selama menjadi atlet putri, dia sudah mencetak 11 medali dari berbagai ajang. Termasuk emas Asian Indoor Games 2005 dari nomor estafet 4×400 putri.

4. Kaus Kaki Bersensor Elektrik di Taekwondo, Asian Games 2010

Banyak cara yang ditempuh demi medali emas. Taekwondo Taiwan memilih cara menggunakan pelindung kaki bersensor elektronik. Tapi akhirnya mereka harus gigit jari setelah hasil pertandingan dianulir karena alat itu dinilai tidak sah.

Taekwondoin Taiwan, Yang Shu Chun, yang turun di kelas terbang putri digadang-gadang menjadi peraih emas di Asian Games 2010 Guangzhou, China. Sebagai juara Asia atlet cantik yang dijuluki baby pretty oleh media itu malah didiskualifikasi.

Dia dinilai melakukan kecurangan karena mengenakan kaus kaki bersensor elektrik illegal. Saat tes pre-match peralatan, wasit menemukan kalau Shu Chun menggunakan dua sensor ekstra pada masing-masing tumitnya. Wasit pun meminta agar sensor itu dilepas. Shu Chun akhirnya bertanding tanpa menggunakan dua tambahan sensor itu.

Tapi, 12 detik menjelang babak pertama usai, Shu Chun yang sudah memimpin 9-0, wakil presiden Uni Taekwondo Asia Zhao Lei menginstruksikan wasit asal Filipina Fernandez S. Estanislaoto memanggil Shu Chun ke pinggir arena dan memeriksa tumit dia. Tak menemukan apapun, wasit kemudian meminta yuri kemudian memanggil wasit pertandingan dan akhirnya menemukan kecurangan itu.

Shu Chun diganjar hukuman dilarang tampil selama tiga bulan sednagkan sang pelatih diskorsing 20 bulan. Selain itu, asosiasi taekwondo Taiwan didenda USD 50 ribu karena dianggap lalai.

5. Tim India Boikot Kriket, Asian Games 2010

Saat pertama dimainkan di Asian Games 2010 Guangzhou, China, kriket langsung diwarnai kontroversi. India sebagai kekuatan terbesar di Asia malah menolak untuk tampil.

Kala itu, India beralasan lebih mengutamakan turnamen internasional ketimbang Asian Games. “Kami tak akan mengirimkan tim kriket, baik tim putra atau putri, untuk Asian Games di China karena komitmen internasional,” kata salah satu pengurus kriket India, Ratnakar Shetty, waktu itu.

Keputusan itu pun mendoroang perang media dengan Pakistan. Pakistan membalas keputusan India itu dengan melontarkan kalimat akan tampil di Asian Games untuk menghormati ‘teman karib’ China.

About the author

Related Posts